GUNADARMA

Jumat, 28 April 2017

ANALISA CARA MEMINIMASI DAMPAK NEGATIF DARI JURNAL GERAKAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP (STUDI TENTANG UPAYA MENCIPTAKAN KAMPUNG HIJAU DI KELURAHAN GUNDIH SURABAYA)


Terdapat beberapa dampak negatif dari masalah yang dibahas di jurnal tersebut. Beriut ini adalah dampak negatifnya.
Ø  Ketidaksiapan masyarakat dengan perubahan kultur yang dijalankan, yaitu menjadi lebih peka dan ramah terhadap lingkungan. Jika perubahan tersebut tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh maka kampung hijau tersebut tidak akan terlaksana.
Ø  Gerakan ini hanya dilakukan oleh sekelompok warga di Gundih bukan secara keseluruhannya, sehingga akan berakibat kurang maksimal dalam pelestarian lingkungannya.
Dampak negatif diatas memang terdengar sepele atau tidak terlalu penting, namun alangkah lebih baik dan berguna jika permasalahan yang dibahas pada jurnal tersebut tidak memilki dampak negatif yang dihasilkan. Cara atau langkah untuk meminimasi atau menghilangkan dampak negatif yang pertama adalah dengan membuat kesepakatan untuk melestarikan lingkungan hidup dengan masyarakat sekitar untuk mentaati dan melakukan norma-norma yang dibuat. Selain membuat kesepakatan, agar lebih terarah maka sebaiknya dibuat hukuman untuk yang melanggarnya. Hukuman tersebut dapat berupa kesulitan dalam pengurusan administrasi yang membutuhkan tanda tangan RT setempat dan hukuman-hukuman lainnya. Cara atau langkah untuk meminimasi atau menghilangkan dampak negatif yang kedua adalah dengan melakukan sosialisasi besar-besaran tentang pentingnya pelestarian untuk kelangsungan hidup masyarakat sekitar dan tentang dampak positif yang ditimbulkan dari pelestarian lingkungan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA JURNAL


Lailia, Anita Nur. 2014. GERAKAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP (STUDI TENTANG UPAYA MENCIPTAKAN KAMPUNG HIJAU DI KELURAHAN GUNDIH SURABAYA). Surabaya: Universitas Airlangga diunduh pada http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-jpm9230107744full.pdf.

ANALISIS JURNAL GERAKAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP (STUDI TENTANG UPAYA MENCIPTAKAN KAMPUNG HIJAU DI KELURAHAN GUNDIH SURABAYA)


            Secara umum, jurnal ini menjelaskan tentang gerakan yang dilakukan oleh warga di Kelurahan Gundih untuk menciptakan kampung hijau guna melestarikan lingkungan hidup di daerah mereka. Gerakan warga Gundih ini termasuk gerakan sosial baru, karena merupakan strategi yang merubah kultur masyarakatnya. Merubah kultur disini ditunjukkan dengan upaya untuk merubah perilaku warganya agar lebih ramah dan peka terhadap lingkungan. Kampung hijau yang dibentuk oleh warga Gundih dilakukan dengan beberapa upaya, yaitu consensus bersama melalui pembuatan nota kesepakatan, mendaur ulang sampah, menghemat penggunaan air, menjadiakan kampung wisata lingkungan tengah kota, dan mensosialisasikan kepada masyarakat luar tentang pelestarian lingkungan hidup.
            Penulisan jurnal ini memberikan dampak positif dan negatif terhadap lingkungan yang ditelitinya. Berikut ini adalah penjelasan tentang dampak positif dan negatif tersebut.
1.      Dampak Positif
Ø  Memberikan kesadaran lebih kepada masyarakat umum untuk ikut melestarikan lingkungan hidup yang ada disekitarnya dengan cara pendaur ulangan sampah, penghematan air, dan lain-lain.
Ø  Penggunaan air menjadi lebih hemat karena menggunakan air bekasi atau IPAL untuk pengganti penyiraman tanaman yang semula masih menggunakan air PDAM yang membutuhkan biaya untuk pemakaian airnya.
Ø  Pendaur ulangan sampah dilakukan dengan langkah awal yaitu memisahkan sampai organik dan non-organik, yang kemudian dapat dikelola lagi menjadi produk yang dapat dipakai ulang atau diperjualbelikan.
Ø  Menjadikan daerahnya menjadi tempat wisata dan mendapatkan keuntungan di aspek ekonomi untuk memajukan daerahnya tersebut.
2.      Dampak negatif
Ø   Ketidaksiapan masyarakat dengan perubahan kultur yang dijalankan, yaitu menjadi lebih peka dan ramah terhadap lingkungan. Jika perubahan tersebut tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh maka kampung hijau tersebut tidak akan terlaksana.

Ø Gerakan ini hanya dilakukan oleh sekelompok warga di Gundih bukan secara keseluruhannya, sehingga akan berakibat kurang maksimal dalam pelestarian lingkungannya.

Sumber: http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-jpm9230107744full.pdf

Kamis, 30 Maret 2017

PENGETAHUAN LINGKUNGAN 2

LANDASAN KEBIJAKSANAAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM
A.      Kebijakan Pengelolaan Bidang Pengairan
1.      Meningkatnya kualitas air sungai khususnya di seluruh DAS kritis disertai pengendalian dan pemantauan secara kontinyu
2.      Terjaganya danau dan situ, khususnya di Jabodetabek, dengan kualitas air yang memenuhi syarat
 3.      Berkurangnya pencemaran air dan tanah di kota kota besar disertai pengendalian dan pemantauan terpadu antar sektor
4.      Terkendalinya kualitas air laut melalui pendekatan terpadu antara kebijakan konservasi wilayah darat dan laut
5.      membaiknya kualitas udara perkotaan khususnya di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, didukung oleh perbaikan manajemen dan sistem transportasi kota yang ramah lingkungan
6.      Berkurangnya penggunaan bahan perusak ozon (ODS/Ozone Depleting Substances) secara bertahap dan sama sekali hapus pada tahun 2010
7.      Berkembangnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim  global
8.      Pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan sesuai pedoman IBSAP 2003-2020 (Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan)
9.      Meningkatnya upaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam manajemen persampahan untuk mengurangi beban TPA
10.  Regionalisasi pengelolaan TPA secara profesional untuk mengantisipasi keterbatasan lahan di Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya
11.  Mengupayakan berdirinya satu fasilitas pengelolaan limbah B3 yang baru di sekitar pusat kegiatan industri
12.  Tersusunya aturan pendanaan lingkungan yang inovatif sebagai terobosan untuk mengatasi kecilnya pembiayaan sektor lingkungan hidup
13.  Sosialisasi berbagai perjanjian internasional kepada para pengambil keputusan di tingkat pusat dan daerah
14.  Membaiknya sistem perwakilan Indonesia di berbagai konvensi internasional untuk memperjuangkan kepentingan nasional
15.  Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara sumber daya alam dan lingkungan hidup.
B.       Kebijakan Pengelolaan Bidang Kehutanan
1.      Tegaknya hukum, khususnya dalam pemberantasan illegal loging dan penyelundupan kayu
2.      Pengukuhan kawasan hutan dalam tata ruang seluruh propinsi di Indonesia, setidaknya 30 persen dari luas hutan yang telah ditata batas
3.      Optimalisasi nilai tambah dan manfaat hasil hutan dan kayu
4.      Meningkatnya hasil hutan non kayu sebesar 30 persen dari produksi (2004)
5.      Bertambahnya hutan tanaman industri (HTI), seluas 3 juta hektar, sebagai basis pengembangan ekonomi hutan
6.      Konservasi hutan dan rehabilitasi lahan di 141 DAS prioritas untuk menjamin pasokan air dari sistem penopang kehidupan lainnya
7.      Desentralisasi kehutanan melalui pembagian wewenang dan tangghung jawab yang disepakati oleh Pusat dan Daerah
8.      Berkembangnya kemitraan antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat dalam pengelolaan hutan lestari
9.      Penerapan iptek yang inovatif pada sektor kehutanan.
C.      Kebijakan Pengelolaan Bidang Kelautan
1.      Berkurangnya pelanggaran dan perusakan sumber daya kelautan
2.      Membaiknya pengelolaan ekosistem pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil secara terpadu
3.      Selesainya batas laut dengan negara tetangga
4.      Serasinya peraturan perundang di bidang kelautan.
D.     Kebijakan Pengelolaan Bidang Pertambangan dan Sumber Daya Mineral
1.      Optimalisasi peran migas dalam penerimaan negara guna menunjang pertumbuhan ekonomi
2.      Meningkatnya cadangan, produksi, dan ekspor migas
3.      Terjaminnya pasokan migas dan produk-produknya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri
4.      Terselesaikannya Undang undang Pertambangan sebagai pengganti Undang undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok Pokok Pertambangan
5.      Meningkatnya investasi pertambangan dengan perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha
6.      Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk pertambangan
7.      Terjadinya alih teknologi dan kompetensi tenaga kerja
8.      Meningkatnya kualitas industri hilir yang berbasis sumber daya mineral
9.      Meningkatnya keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan
10.  Berkurangnya kegiatan pertambangan tanpa ijin (PETI).



KARAKTERISTIK EKOLOGI SUMBER DAYA ALAM
1.      Sumber daya alam berdasarkan jenis :
Sumber daya alam hayati / biotik adalah sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup. Contohnya adalah tumbuhan, hewan, mikro organisme, dan lain-lain.
Sumber daya alam non hayati / abiotik
adalah sumber daya alam yang berasal dari benda mati. Contohnya adalah bahan tambang, air, udara, batuan, dan lain-lain
2.      Sumber daya alam berdasarkan sifat pembaharuan :
Sumber daya alam yang dapat diperbaharui / renewable yaitu sumber daya alam yang dapat digunakan berulang-ulang kali dan dapat dilestarikan. Contohnya adalah air, tumbuh-tumbuhan, hewan, hasil hutan, dan lain-lain
Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui / non renewable ialah sumber daya alam yang tidak dapat di daur ulang atau bersifat hanya dapat digunakan sekali saja atau tidak dapat dilestarikan serta dapat punah. contohnya adalah minyak bumi, batubara, timah, gas alam.
Sumber daya alam yang tidak terbatas jumlahnya / unlimited. Contohnya adalah sinar matahari, arus air laut, udara,  dan lain lain.

3.      Sumber daya alam berdasarkan kegunaan atau penggunaannya:
Sumber daya alam penghasil bahan baku adalah sumber daya alam yang dapat digunakan untuk menghasilkan benda atau barang lain sehingga nilai gunanya akan menjadi lebih tinggi. Contohnya adalah hasil hutan, barang tambang, hasil pertanian, dan lain-lain
Sumber daya alam penghasil energy adalah sumber daya alam yang dapat menghasilkan atau memproduksi energi demi kepentingan umat manusia di muka bumi. Contohnya adalah ombak, panas bumi, arus air sungai, sinar matahari, minyak bumi, gas bumi, dan lain sebagainya.
SUMBER: https://riogumelar27.wordpress.com/2013/01/20/karakteristik-ekologi-sumber-daya-alam/ dan http://agus93winasis.blogspot.co.id/2013/11/kebijakan-dan-pengelolaan-lingkungan.html

PENGETAHUAN LINGKUNGAN 1

LINGKUNGAN DAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN

·         PENGERTIAN LINGKUNGAN MENURUT PARA AHLI
1.      Menurut Miller (1986), Lingkungan adalah kumpulan atau sejumlah kondisi eksternal yang mempengaruhi kehidupan individu organisme atau populasi.
2.      Menurut Lincoln (1985), Lingkungan adalah kondisi fisik, kemis, dan biologis di sekitar organisme pada waktu tertentu.
3.      Menurut Darsono (1992) lingkungan merupakan semua benda atau kondisi dimana manusia tersebut mempengaruhi kelangsungan hidupnya.
·         PENGERTIAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN MENURUT PARA AHLI
1.      Ilmu lingkungan adalah ilmu pengetahuan tentang fenomena fisika dalam lingkungan. Ilmu ini mempelajari tentang sumber-sumber, reaksi, transportasi, efek dan kejadian fisik suatu spesies biologi di udara, air dan tanah dan pengaruh dari kegiatan manusia terhadapnya (Lincoln, 1985).
2.      Menurut Soerjani, dkk (2006), ilmu lingkungan adalah penggabungan ekologi (manusia) yang dilandasi dengan kosmologi (tatanan alam) yang mempunyai paradigma sebagai ilmu pengetahuan murni. Hakikat ilmu pengetahuan pada dasarnya berkembang untuk mendasari, mewarnai serta sebagai pedoman kearifan sikap dan perilaku manusia.


ASAS-ASAS PENGETAHUAN LINGKUNGAN
  • ASAS 1
Menyatakan bahwa semua energi yang memasuki sebuah organisme, populasi, atau ekosistem yang dianggap sebagai energi tersimpan atau terlepaskan. Energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain, serta tidak dapat hilang, dihancurkan, maupun diciptakan.
  • ASAS 2
Menyatakan bahwa tidak ada sistem perubahan energi sangat efisien. Misalnya pada Hukum Termodinamika II yaitu “Semua sistem biologi kurang efisien, kecenderungan umum, energi berdegradasi ke dalam bentuk panas yang tidak balik dan beradiasi menuju angkasa.”
  • ASAS 3
Menyatakan bahwa materi, energi, ruang, waktu dan keanekaragaman, semuanya termasuk pada sumber alam.
  • ASAS 4
Menyatakan bahwa semua kategori sumber alam, jika pengadaannya telah maksimal, pengaruh unit kenaikannya sering menurun dengan penambahan sumber alam sampai ke tingkat maksimum.
  • ASAS 5
Menyatakan bahwa terdapat dua jenis sumber alam, yaitu sumber alam yang pengadaannya dapat merangsang penggunaan, dan tidak mempunyai daya rangsang penggunaan.
  • ASAS 6
Menyatakan bahwa Individu dan spesies yang mempunyai lebih banyak keturunan daripada saingannya, cenderung akan berhasil mengalahkan saingannya tersebut.
  • ASAS 7
Menyatakan bahwa kemantapan pada keanekaragaman suatu komunitas lebih tinggi di alam lingkungan yang mudah diramal.
  • ASAS 8
Menyatakan bahwa sebuah habitat dapat jenuh atau tidak oleh keanekaragaman takson. Hal tersebut bergantung kepada bagaimana nicia dalam lingkungan hidup dapat memisahkan takson.
  • ASAS 9
Menyatakan bahwa keanekaragaman komunitas apa saja sebanding dengan biomasa dibagi produktivitasnya. Terdapat hubungan antara biomasa, aliran energi, dan keanekaragaman dalam suatu sistem biologi.
  • ASAS 10
Menyatakan bahwa lingkungan yang stabil perbandingan antara biomasa dengan produktivitas dalam perjalanan waktu naik mencapai sebuah asimtot. Sistem biologi menjalani evoluasi yang mengarah pada peningkatan efisiensi penggunaan energi pada lingkungan fisik yang stabil.
  • ASAS 11
Menyatakan bahwa sistem yang telah mantap mengeksploitasi sistem yang belum mantap. Contohnya seperti pada hama tikus, serangga dari hutan rawa menyerang tanaman pertanian dilahan transmigran.
  • ASAS 12
Menyatakan bahwa kesempurnaan adaptasi suatu sifat atau tabiat tergantung kepada kepentingan relatifnya pada keadaan lingkungan.
  • ASAS 13
Menyatakan bahwa ingkungan yang secara fisik telah mantap memungkinkan terjadinya penimbunan keanekaragaman biologi pada ekosistem yang mantap, serta kemudian dapat menggalakkan kemantapan populasi lebih jauh.
  • ASAS 14

Menyatakan bahwa derajat pola keteraturan naik-turunnya populasi tergantung kepada jumlah keturunan dalam sejarah populasi sebelumnya yang akan mempengaruhi populasi tersebut.

SUMBER: https://mgshafidzdwi.wordpress.com/2015/03/24/definisi-pengetahuan-lingkungan/ dan https://ahmadharisandi7.wordpress.com/2015/10/19/1-asas-asas-pengetahuan-lingkungan/

Rabu, 19 Oktober 2016

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pengertian Metodologi Penelitian
“Metodologi penelitian” berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat
untuk melakukan sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi,
metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara saksama
untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari,
mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya.

B. Perkembangan Metodologi Penelitian
Ilmu pengetahuan memiliki sifat utama yaitu tersusun secara sistematik dan runtut
dengan menggunakan metode ilmiah. Karenanya sementara orang menganggap perlunya
memiliki sikap ilmiah untuk menyusun ilmu pengetahuan tersebut atau dengan kata lain
ilmu pengetahuan memiliki tiga sifat utama tersebut, yaitu :
1) Sikap ilmiah
2) Metode ilmiah
3) Tersusun secara sistematik dan runtut
Periode perkembangan metodologi penelitian yang dikemukakan oleh Rummel yang dikutip oleh Prof. Sutrisno Hadi MA digolongkan sebagai berikut :
a. Periode Trial and Error
Dalam periode ini diisyaratkan bahwa ilmu pengetahuan masih dalam keadaan
embrional. Dalam periode ini orang menyusun ilmu pengetahuan dengan cara mencobacoba
berulang kali sampai dijumpia suatu pemecahan masalah yang diangap
memuaskan.
b. Periode Authority and TraditionPada periode ini kebenaran ilmu pengetahuan didasarkan atas pendapat para pemimpin atau penguasa waktu itu. Pendapat-pendapat  itu dijadikan ajaran yang harus diikuti begitu saja oleh rakyat banyak dan mereka harus menerima bahwa ajaran tersebut benar.
c. Periode Speculation and Argumentation
Pada periode ini ajaran atau doktrin para pemimpin atau penguasa serta tradisi yang
bercakal dalam kehidupan masyrakat mulai menggunakan dialektika untuk mengadakan
diskusi dalam memecahkan masalah untuk memperoleh kebenaran.
d. Periode Hypothesis and Experimentation
Pada periode ini orang mulai mencari rangkaian tata cara untuk mnerangkan suatu
kejadian. Mula-mula membuat dugaan-dugaan (hipotesis-hipotesis), kemudian
mengumpulkan fakta-fakta kemudian dianalisis dan diolah, hingga akhirnya ditarik
kesimpulan.

C. Desain penelitian
Desain penelitian atau rancangan penelitian pada dasarnya adalah strategi untuk
memperoleh data yang dipergunakan untuk menguji hipotesa meliputi penentuan pemilihan
subjek, dari mana informais atau data kan diperoleh, teknik yang digunakan untuk
mengumpulkan data, prosedur yang ditempuh untuk pengumpulan serta perlakuan yang
kana diselenggarakan (khusus untuk penelitin eksperimental).
Menurut Prof. Sutrisno Hadi MA, jenis-jenis penelitian dapat digolongkan sebagai
berikut :
1) Menurut bidangnya :
Penelitian dapat meliputi misalnya penelitian pendidikan, penelitian pertanian,
penelitian hukum, penelitian ekonomi, penelitian agama
2) Menurut tempatnya :
Penelitian dapat meliputi misalnya penelitian laboratorium, penelitian perpustakaan
dan penelitian kancah
3) Menurut pemakaiannya :
Penelitian dapat meliputi : Penelitian murni dan penelitian terapan
4) Menurut tujuan umumnya :
Penelitian dapat meliputi : Penelitian eksploratif, penelitian developmental dan
penelitian verifikatif
5) Menurut tarafnya , penelitian dapat meliputi : penelitian inferensial
6) Menurut pendekatannya, penelitian dapat meliputi penelitian longitudinal dan
penelitian cross sectional
Di sisi lain Dirjen Pendidikan Tinggi menyebutkan salah satu cara penggolongan
mengenai macam rancangan penelitian berdasarkan atas sifat-sifat masalahnya.

D. Variabel Penelitian
Menurut Y.W Best yang disunting oleh sanpiah Faisal yang disebut variabel
penelitian adalah kondisi-kondisi atau serenteristik-serenteristik yang oleh peneliti
dimanipulasikan, dikontrol atau diobservasi dalam suatu penelitian.
Macam-macam variable adalah sebagai berikut:
a. Variabel Tergantung (Dependent Variabel)
Yaitu kondisi atau karakteristik yang berubah atau muncul ketika penelitian
mengintroduksi, pengubah atau mengganti variabel bebas.
b. Variabel bebas (Independent Variabel)
Adalah kondisi-kondisi atau karakteristik-karakteristik yang oleh peneliti dimanipulasi
dalam rangka untuk menerangkan hubungannya dengan fenomena yang diobeservasi.
c. Variabel intervening
Yaitu variabel yang berfungsi menghubungkan variabel satu dengan variabel yang lain.
Hubungan itu dapat menyangkut sebab akibat atau hubungan pengaruh dan terpengaruh.
d. Variabel Moderator
Variabel moderator ialah variabel yang karena fungsinya ikutmempengaruhi variabel
tergatung serta memperjelas hubungan bebas dengan variabel tergantung.
e. Variabel Kendali
Adalah variabel yang membatasi (sebagai kendali) atau mewarnai variabel moderator.
f. Variabel rambang
Yaitu variabel yang fungsinya dapat diabaikan atau pengaruhnya terhadap variabel bebas
maupun variabel tergantung hampir tidak diperhatikan.

E. Subjek Penelitian
Pengertian Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian baik terdiri dari benda yang nyata,
abstrak, peristiwa ataupun gejala yang merupakan sumber data dan memiliki karakter
tertentu dan sama.
Pengertian sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat-sifat yang sama dari
objek yang merupakan sumber data.
Besaran sampel
Disadari bersama bahwa suatu sampel yang baik harus memenuhi syarat baik ukuran
atau besarnya memadai untuk meyakinkan kestabilan ciri-ciri populasi.
Berapa jumlah/besar sampel yang memadai tergantung pada sifat populasi dan tujuan
penelitian. Semakin besar sampel akan semakin kecil kemungkinan salah menarik
kesimpulan tentang populasi.
Teknik-teknik Sampling
Pada dasarnya ada dua macam teknik sampling; yaitu teknik random
sampling dan non random sampling. Dalam tulisan in akan dijelaskan secara singkat
keduanya untuk memberikan petunjuk praktis bagi para pembaca untuk
melaksanakan penelitian sampling, seperti yang dijelaskan oleh Prof. Sutrisno Hadi
MA.
a. Teknik random sampling
Teknik random sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana semua
individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi
kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel.
b. Teknik non random sampling
Teknik non random sampling adalah cara pengambilan sampel yang tidak semua
anggota populasi diberi kesempatan untuk dipilih menjadi sampel. Macammacam
teknik non random sampling adalah sebagai berikut :
- Proportional sampling
Teknik ini menghendaki cara pengambilan sampel dari tiap-tiap sub populasi
dengan memperhitungkan besar kecilnya sub-sub populasi tersebut. Cara ini
dapat memberi landasan generalisasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan
daripada apabila tanpa memperhitungkan besar kecilnya sub populasi dan tiaptiap
sub populasi.
- Teknik stratifiet sampling
Teknik ini biasa digunakan apabila populasi terdiri dari susunan kelompokkelompok
yang bertingkat-tingkat.
- Teknik purposive sampling
Teknik ini berdasarkan pada ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang diperkirakan
mempunyai sangkut paut erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat yang ada dalam
populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Jadi, ciri-ciri atau sifat-sifat yang
spesifik yang ada atau dilihat dalam populasi dijadikan kunci untuk pengambilan
sampel.
Sampling Error
Sampling error ialah kesalahan pengumpulan data dikarenakan oleh cara pemilihan
sampel yang menyebabkan sampel yang terpilih tidak dapat mewakili
populasi.Sedangkan kesalahan yang terjadi bukan karena pemilihan sampel dinamakan
non sampling error.

F. Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan
data penelitiannya. Contoh variasi metode ialah : angket, wawancara, pengamatan atau
observasi, tes dan dokumentasi.
Instrumen pengumpulan data ialah alat/fasilitas yang digunakan oleh penenliti dalam
mengumpulkan data agar pekerjaannnya lebih mudah dan hasilnya baik, dalam arti cermat,
lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.
Instrumen pengumpulan data
Setelah menentukan desain penelitian, langkah selanjutnya dalam pelaksanaan
penelitian adalah membuat atau menetapkan instrumen penelitian.
Menurut metode pengumpulan data, instrumen penelitian dapat dibedakan menjadi alat
untuk :
1. Melakukan observasi
2. Mengumpulkan data melalui dokumentasi
3. Wawancara
4. Angket
5. Mengumpulkan data kuantitatif
Metode Pengumpulan Data
a. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur
ketrampilan, pengetahuan inteegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau
kelompok.
b. Angket atau kuesioner
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi
dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang dia ketahui.
c. Interviu (Interview)
Interviu yang biasa disebut dengan wwancara atau kuesioner lisan adalah sebuah
dialog yang dilakukan pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.
d. Observasi
Dalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula pengamatan, meliputi
kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra
(observasi langsung).
e. Skala bertingkat (rating scale)
Skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala. Walaupun bertingkat,
ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu tentang
program atau orang.
f. Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam
melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku,
majalah, catatan harian dan sebagainya.

G. Teknik analisis data
Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi 3 langkah yaitu :
1. Persiapan : mengecek nama, isian dan macam data
2. Tabulasi : memberi skor, memberi kode, mengubah jenis data, coding dalam coding
form
3. Penerapan data sesuai pendekatan penelitian
a. Penelitian deskriptif : persentase dan komparasi dengan kinerja yang telah
ditentukan


SUMBER:  
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwi_6OPJ-ObPAhVIPo8KHXQTDyUQFggrMAE&url=http%3A%2F%2Fstaff.uny.ac.id%2Fsites%2Fdefault%2Ffiles%2Fpendidikan%2Fdra-wening-sahayu-mpd%2Fmetodologi-penelitian.pdf&usg=AFQjCNEmjV6fiqbh5vd995aLU5f7WpKoFw&sig2=yme9nzWHWjaItyiOrOjEiA